Konservasi Air dengan Bambu


Makhluk hidup sangat membutuhkan air didalam hidupnya, seperti halnya manusia yang membutuhkan air untuk makan dan minum. “Kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari suatu penduduk rata-rata mencapai  424,4 liter/hari untuk tiap-tiap keluarga dengan standar rata-rata 300 liter/keluarga/hari (Wulan, 2005).” Kebutuhan air yang cukup tinggi untuk per harinya sedangkan sumber air yang tersedia sudah tidak memadai, sehingga sering menjadi masalah di kalangan masyarakat. Sumber air yang dahulunya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sudah mulai berkurang keberadaanya. Pertambahan penduduk yang semakin meningkat sehingga menuntut kebutuhan air pun meningkat. “Menurut Hafsaridewi, (2003) memperkirakan pada tahun 2046 seluruh pulau akan menjadi lahan pemukiman dan ketersediaan air bersih di Pulau Panggang sudah habis”.


Di era sekarang, banyak peristiwa atau fenomena yang terjadi seperti kekurangan air di musim kemarau bahkan kebanjiran pada saat musim penghujan. “Menurut Citra (2012) menyatakan bahwa sebagian besar air hujan yang turun menjadi aliran permukaan, hanya sedikit yang terserap kedalam tanah untuk menjadi aliran bawah permukaan atau tersimpan menjadi air tanah. Konsekuensi logis dari hal ini adalah  DAS akan selalu mengalami kekurangan air pada saat musim kemarau”.  Hal tersebut merupakan salah satu dampak yang terjadi akibat rusaknya lahan hutan, dikarenakan sedikitnya vegetasi hutan yang menutupi tanah sehingga air hujan langsung jatuh menghentam tanah dan dialirkan menjadi run off atau aliran permukaan. Lahan hutan yang merupakan catchment area sudah tidak berfungsi dengan baik, Sehingga menurunnya kuantitas dan kualitas air tanah.

Dari peristiwa diatas, masyarakat akan kesulitan dalam mendapatkan air  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga banyak masyarakat yang berlomba-lomba atau bersaing demi untuk mendapatkan air disetiap harinya. Berbagai macam cara masyarakat untuk mendapatkan air seperti memperdalam lubang sumur, membuat sumur resapan atau dengan membuat sumur pompa atau sering disebut dengan sumur bor. Cara-cara tersebut masih kurang efektif untuk digunakan dikalanagan masyarakat. Dikarenakan merugikan masyarakat-masyarakat yang berlevel ekonomi menengah kebawah yang tidak mampu dalam membuat sumur bor tersebut. sehingga masyarakat yang lainnya akan tetap kesulitan untuk mendapatkan air.

Menjaga ketersediaan air untuk masa yang akan datang tidaklah mudah, banyak hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Banyak pihak yang harus bekerja sama secara teratur dan usaha yang maksimal. Solusi-solusi yang pernah dilakukan seperti reboisasi hutan, penghijauan, bahkan menggunakan tekhnologi canggih. Kegiatan tersebut belum dapat dikatakan efektif karena dilihat dari “luas hutan indonesia yang termasuk dalam 10 besar hutan terluas di dunia (Widaya, 2013)” dengan “indonesia menempati peringkat ke 54 dalam meningkatkan supply air dengan persentase 11,11% (Yale Center for Environmental Law & Policy, 2010).”

Reboisasi ataupun penghijauan merupakan konsep yang sangat alami dan mudah dilakukan. Sehingga banyak masyarakat yang melakukan kegiatan penanaman pohon di lahan milik (pribadi) maupun di lahan negara. Akan tetapi,  kegiatan penghijauan dengan menanam pohon sangat membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menunggu pohon tersebut tumbuh hingga dapat berfungsi menjaga lingkungan dengan baik. Selain itu, Muncul permasalahan-permasalahan yang baru setelah pepohonan tumbuh besar dan bernilai ekonomis. Permasalahan-permasalahan ini sudah marak terjadi di indonesia seperti penebangan liar, pembalakan hutan, bahkan pemanenan hutan secara besar-besaran (eksploitasi). Sehingga penanaman pohon yang sudah dilakukan seperti sia-sia untuk dilakukan kembali.

Selain penanaman pohon, banyak negara yang menggunakan tekhnologi canggih untuk memenuhi kebutuhan air. “Tekhnologi yang digunakan seperti Desalinasi Air laut dan tekhnologi metode reverse osmosis (Persatuan Insinyur Indonesia, 2016).” Tekhnologi-tekhnologi ini memerlukan biaya yang cukup tinggi sehingga untuk penerapannya di indonesia masih belum cukup efektif untuk diimplementasikan. Sehingga  solusi-solusi diatas masih kurang efektif digunakan untuk menyimpan air untuk masa yang akan datang.

Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya. Salah satu sumber daya alam yang penuh dengan manfaat adalah bambu. Bambu merupakan jenis tanaman yang sangat mudah tumbuh termasuk dalam tanaman yang  fast growing. Di indonesia terdapat banyak jenis bambu, diperkirakan sekitar 159 spesies dari total 1.250 jenis bambu yang terdapat di dunia. bahkan sekitar 88 jenis bambu yang ada di Indonesia merupakan tanaman endemik Indonesia (Alamendah, 2011). Pertumbuhan bambu yang cepat dan mempunyai perakaran serabut sehingga dapat menjadikan tanaman ini sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Rambut-rambut yang terdapat pada akar bambu memiliki kemampuan mengembang sehingga dapat membuat bambu memiliki kapasitas menyimpan air yang sangat tinggi. Sehingga bambu dapat berfungsi sebagai aquifer hidup yang menyimpan air untuk keperluan dimasa yang akan datang. Tidak hanya itu, bambu yang juga mudah didapatkan dan sesuai kondisi tempat tumbuhnya di indonesia. Sehingga gerakan menanam bambu secara nasional mudah untuk dilakukan dengan biaya yang terjangkau. Bahkan semua kalangan masyarakat dapat melakukannya dengan baik.

Menanam bambu di daerah aliran sungai (DAS) diharapkan dapat memperbaiki kuantitas bahkan kualitas air sungai dan air tanah. Sehingga kesulitan untuk mendapatkan air bersih di masa yang akan datang akan teratasi dengan baik. 

Komentar